Jumat, 11 Desember 2009

Tugas-tugas perkembangan sepanjang rentang kehidupan

Tugas-tugas perkembangan sepanjang rentang kehidupan

Menurut Havighurst pada masa anak akhir (Hurlock, 1991 dan Rifai, 1997) dikemukakan dalam uraian berikut.
1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-pemainan yang umum.Hakikat dari tugas perkembangan ini adalah mempelajari keterampilan-
keterampilan yang bersifat fisik/jasmani untuk dapat melakukan permainan.
Keterampilan yang dimaksudkan antara lain keterampilan dalam melempar,
menendang, melompat, meloncat, berenang, dan menggunakan alat-alat
permainan tertentu. Secara fisik, anak pada usia ini mengalami kematangan
tulang, otot, dan urat syaraf yang memungkinkan anak siap untuk melakukan
koordinasi gerak fisik. Selain itu, secara psikis khususnya


aspek sosial, anak
mulai mempunyai teman kelompok sebaya (peer group) yang dapat menghargai
apabila anak sebagai anggota kelompok memiliki keterampilan permainan sesuai
dengan tuntutan kelompoknya. Sekolah dasar seharusnya dapat memfasilitasi
anak laki-laki maupun perempuan usia SD/MI untuk membentuk kelompok
permainan bersama.

2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh. Hakikat tugas perkembangan ini adalah belajar mengembangkan sikap kebiasaan untuk hidup sehat, dengan cara memelihara badan agar tetap sehat,
menjaga kebersihan, keselamatan diri, menghindari penyakit, konsisten memelihara kesehatan, dan mempunyai sikap yang realistis terhadap seks. Pada saat ini, otot anak telah berkembang pesat dan tumbuh gigi tetap. Secara psikologis, anak dihargai atau tidak dihargai oleh teman sebaya dan orang dewasa berdasarkan keterampilan fisik dan penampilan diri. Sekolah dasar dapat membantu anak menyelesaikan tugas perkembangan ini dengan cara menjelaskan dan membiasakan anak untuk hidup sehat dan berpenampilan sesuai dengan tuntutan sosial budaya di lingkungan kehidupan anak, serta memberikan pendidikan seks khususnya menjelang akhir periode perkembangan ini.

3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya. Hakikat tugas
perkembangan ini adalah anak belajar memberi dan menerima dalam kehidupan
sosial antara teman sebaya, dan belajar membina persahabatan dengan teman
sebaya, termasuk juga bergaul dengan musuhnya. Dengan demikian, anak belajar
sosialisasi dalam rangka pembentukan kepribadiannya. Pada saat ini, keadaan
fisik yang sehat dan bersih, serta penguasaan keterampilan fisik sangat penting
bagi terciptanya hubungan baik di antara teman sebaya.

Secara psikologis, anak mulai ke luar dari lingkungan keluarga dan memasuki dunia pergaulan dengan teman sebaya. Melalui pergaulan dengan teman sebaya, banyak hal yang dapat dipelajari anak seperti saling belajar menyesuaikan diri, terbentuknya sikap dan sifat jujur, sopan, sportif, dan toleran, yang akan mewarnai pembentukan
kepribadian anak selanjutnya. Sekolah dapat membantu anak menyelesaikan tugas perkembangan ini dengan menggunakan sosiometri untuk mengetahui status dan hubungan sosial anak dengan teman-temannya sehingga dapat memberikan bimbingan maupun kegiatan yang dapat memfasilitasi anak agar mau dan dapat bergaul dengan teman sebaya dan orang-orang di sekitarnya.


4. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita dengan tepat. Hakikat tugas
perkembangan ini adalah anak belajar dan bertindak sesuai dengan peran seksnya
yaitu sebagi anak laki-laki atau anak perempuan. Secara fisik biologis, ada
perbedaan anatomi antara anak laki-laki dan perempuan sehingga mengakibatkan
masyarakat menuntut agar mereka berperan sesuai dengan jenis kelaminya. Anak
perempuan diharapkan mengidentifikasikan diri pada ibunya, sedangkan anak
laki-laki mengidentifikasikan diri pada ayahnya. Perbedaan peran sosial pria dan
wanita juga dipengaruhi kelas sosial anak. Anak dari kelas sosial menengah ke
atas dituntut peran sosial yang berbeda dibandingkan dengan anak dari kelas
sosial menengah ke bawah. Sekolah dasar dapat membantu anak dengan memberi
informasi dan memperlakukan anak sesuai dengan peran sosial sebagai anak laki-
laki atau perempuan yang berlaku di masyarakat di lingkungan anak menjalani
kehidupannya.

5. Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung. Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak belajar mengembangkan
tiga keterampilan dasar yaitu membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan
untuk hidup di masyarakat. Pada saat ini, secara fisik khususnya urat syaraf
keterampilan motorik halus telah memungkinkan anak untuk belajar menulis dan
berhitung permulaan. Kemampuan membaca pemahaman berkembang sejalan
dengan perkem-bangan kemampuan kognitif anak. Setiap masyarakat mempunyai perbedaan harapan mengenai kemampuan dasar dan tingkatpendidikan bagi anaknya. Masyarakat tingkat sosial ekonomi rendah biasanya kurang memberikan dukungan agar anak-anaknya mencapai pendidikan yang tinggi dibandingkan dengan harapan masyarakat tingkat sosial ekonomi menengah dan atas. Sekolah dasar sangat berperan dalam mengembangkan keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung, juga dalam memotivasi anak untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi.

6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari. Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak harus mempelajari berbagai
konsep agar dapat berpikir efektif mengenai permasalahan sosial di sekitar
kehidupan anak sehari-hari. Pada saat ini, otak anak sudah berkembang dan
matang untuk mempelajari konsep-konsep berdasarkan tahapan perkembangan
kognitif anak, serta dapat mengaplikasikan konsep tersebut dalam menghadapi
masalah kehidupan sehari-hari. Sekolah dasar melalui pendidikan dan pembelajaran hendaknya dapat menjelaskan konsep-konsep yang diperlukan secara jelas dan benar, sehingga dapat memudahkan anak untuk berkembang dalam kehidupannya.

7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, serta tata dan tingkatan nilai.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah mengembangkan moral yang bersifat
batiniah yaitu hati nurani, serta mengembangkan pemahaman dan sikap moral
terhadap peraturan dan tata nilai yang berlaku dalam kehidupan anak. Anak
belajar dan mengembangkan hati nurani dan nilai serta sikap moral (baik – buruk) melalui teladan dari orang tua di keluarga dan guru di sekolah, juga melalui pujian maupun larangan/hukuman terhadap perilaku moral yang dilakukan ataupun diperlihatkan anak, serta melalui pengalaman moral anak dengan teman-temannya.

8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-
lembaga. Hakikat tugas perkembangan ini adalah mengembangkan sikap sosial
yang demokratis dan menghargai hak orang lain. Setiap masyarakat mempuyai
sikap sosial sendiri-sendiri. Misalnya, masyarakat Indonesia menyukai sikap
tenggang rasa, dan kerja sama dalam alam demokrasi pancasila. Di sekolah dasar,
anak belajar sikap sosial terhadap berbagai hal, seperti sikap terhadap kelompok
agama, ras dan suku bangsa, serta kelompok sosial politik ekonomi yang
berlainan. Sikap terhadap kelompok sosial dapat dipelajari melalui cara meniru
orang atau kelompok sosial yang dipandang mempunyai prestasi lebih dan dapat
dibanggakan. Juga mencontoh melalui pengalaman menyenangkan ataupun tidak
menyenangkan terhadap kelompok sosial tertentu. Jadi sikap terhadap kelompok
sosial yang terbentuk pada masa anak sekolah dapat berubah/diubah oleh
pengalaman anak di kemudian hari.

9. Mencapai kebebasan. Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak menjadi
individu yang otonom atau bebas, dalam arti dapat membuat rencana untuk masa
sekarang dan masa yang akan datang, bebas dari pengaruh orang tua atau orang
lain. Kebebasan pribadi pada anak dimungkinkan apabila anak menyadari bahwa
mereka dapat berbuat lebih baik dari orang tua atau guru mereka. Dengan demikian, mereka pun dapat mulai mengembangkan pengetahuannya secara bebas dan membuat keputusan sendiri tanpa terlalu tergantung pada orang tua, guru, atau orang dewasa lainnya.

Keberhasilan melaksanakan tugas-tugas perkembangan sebelumnya seperti mampu bergaul dan menyesuaikan diri dengan teman sebaya, berkembangnya konsep dan pengetahuan anak, serta berkembangnya hati nurani dan nilai serta sikap moral anak sangat membantu dan berpengaruh terhadap pemilihan keputusan yang diambil. Keluarga, sekolah, dan teman-teman sebaya dapat menjadi ”laboratorium” bagi perkembangan kebebasan anak dalam menentukan pilihan keputusan. Memang dapat terjadi anak salah mengambil keputusan. Oleh karena itu, bimbingan dari orang dewasatetap diperlukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar