Jumat, 11 Desember 2009

Karakteristik Perkembangan Masa Anak Awal (2 - 6 tahun)

Karakteristik Perkembangan Masa Anak Awal (2 - 6 tahun)

Umumnya orang berpendapat bahwa periode masa anak dirasakan sebagai
periode yang cukup lama. Peride ini berlangsung dari rentangan waktu 3-5 tahun dan
dilanjutkan 6-12 tahun relatif singkat. Tetapi, karena ketidakberdayaan dan
ketergantungan pada orang lain dirasakan relatif lama, anak-anak tidak sabar
menunggu saat pengakuan dari masyarakat bahwa mereka bukan anak-anak lagi,
melainkan sudah menjadi orang dewasa yang memiliki kebebasan untuk melakukan



apa pun menurut kehendaknya sendiri.

Masa anak awal berlangsung dari usia 2 – 6 tahun, yaitu setelah anak
meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan formal di SD. Tekanan
dan harapan sosial untuk mengikuti pendidikan sekolah menyebabkan perubahan
pola perilaku, minat, dan nilai pada diri anak. Orang tua sering menyebut masa anak awal sebagai usia sulit dan mengundang masalah. Mengapa? Karena pada masa ini anak sedang dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan. Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, kadang menentang dan melawan orang tua, atau orang dewasa lainnya. Penyebabnya ialah mulai berkurangnya ketergantungan anak dibandingkan dengan pada masa bayi sebelumnya. Kemauan anak pun mulai berkembang. Pemahaman yang kurang tepat terhadap perubahan perkembangan anak pada masa ini dapat mengakibatkan orang dewasa tidak bersikap yang kurang semestinya. Hal ini akan mempengaruhi proses peletakan dasar pembentukan kepribadian yang dapat menimbulkan masalah di kemudian hari.

Selain sebutan usia sulit dan bermasalah, orang tua juga menganggap masa
anak awal sebagai usia bermain karena sebagian besar waktu anak digunakan untuk
bermain. Sementara itu, para pendidik menyebut masa anak awal sebagai usia
prasekolah, di mana anak mulai dititipkan pada tempat penitipan anak (TPA).
Kemudian mereka memasuki kelompok bermain (KB). Terakhir, mereka memasuki
Taman Kanak-kanak (TK) yang menekankan pada kegiatan bermain dalam
pendidikan dan pembelajarannya untuk membantu perkembangan mereka melalui
belajar sambil bermain (learning by playing). Pada masa prasekolah ini, anak
dipersiapkan untuk mengikuti kegiatan yang akan diselenggarakan di sekolah formal
(SD).

Para psikolog perkembangan anak menyebut masa anak awal sebagai usia
kelompok. Mengapa? Karena anak mulai belajar dasar-dasar perilaku melalui
interaksi dengan anggota keluarga dan kelompok bermainnya. Selain itu juga, para
psikolog menyebut anak pada masa ini sebagai usia menjelajah dan usia bertanya.
Hal ini dikarenakan anak sudah mampu berjalan sehingga dapat menjelajah dan ingin
tahu sehingga selalu bertanya mengenai segala hal yang ditemui di lingkungan
kehidupan sekitarnya. Masa ini disebut juga usia meniru karena anak senang belajar
dengan cara meniru, terutama menirukan pembicaraan dan tindakan orang lain. Ada
pula yang menyebut masa ini sebagai usia kreatif. Pada periode ini anak memiliki
kecenderungan kuat untuk menunjukkan kreativitas mereka terutama dalam bermain
dibandingkan dengan masa lain dalam kehidupannya.

Pada masa ini perkembangan fisik dan motorik anak sangat pesat. Demikian
juga kemampuan berbicaranya. Anak mulai tertarik pada diri sendiri (egosentris).
Emosi yang umum pada masa anak awal adalah marah, takut, cemburu, ingin tahu,
gembira, sedih, dan kasih sayang. Sosialisasi pada masa anak awal terjadi melalui
interaksi dengan orang-orang di sekitar anak, yaitu anggota keluarga dan teman
bermain. Anak juga mulai belajar perilaku moral (baik – buruk) melalui respon

menyenangkan atau tidak menyenangkan dari orang tua atau orang dewasa lainnya.
Disiplin mulai dapat diterapkan pada anak sehingga anak dapat mulai belajar hidup
secara tertib. Sikap orang tua dan teman-teman berpengaruh dalam pembentukan
konsep diri yang menjadi dasar dan inti perkembangan kerpribadian anak
selanjutnya.

Bahaya potensial atau resiko pada masa anak awal dikelompokan atas bahaya
fisiologis dan bahaya psikologis. Bahaya fisiologis antara lain penyakit, kecelakaan,
kegemukan, atau kekurusan. Bahaya psikologis antara lain kesulitan berbicara,
keadaan dan gangguan emosi, kesulitan dalam sosialisasi melalui kegiatan bermain,
serta kebiasaan, disiplin, dan konsep diri yang kurang positif. Kebahagiaan anak
pada masa ini antara lain dipengaruhi oleh kondisi kesehatan yang baik, pengakuan
orang lain akan perilaku kekanakannya, bebas mengungkapkan ekspresi emosi,
harapan sosial yang realistis, kesempatan untuk melakukan eksplorasi, suasana
gembira, serta dukungan keluraga.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar