TEORI HUMANISTIK
Teori jenis ketiga adalah teori humanistik. Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Dari keempat teori belajar, teori humanistik inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan.
Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya ”isi” dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Wajar jika teori ini sangat bersifat elektik. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk ”memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri, dan sebagainya itu) dapat tercapai.
Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud dalam pendekatan yang diusulkan oleh Ausubel yang disebut ”belajar bermkna” atau meaning full learning. (sebagai catatan, teori Ausubel ini di maksukkan ke dalam aliran kognitif). Teori ini juga termujud dalam teori Bloom dan Krathwohl dalam bentuk taksonomi Bloom yang terkenal itu. Selain itu, empat pakar lain yang juga termasuk ke dalam kubu teori ini adalah Kolb, Honey, dan Mumford, serta Habermas.
Bloom Dan Krathwohl
Dalam hal ini, Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang tercakup tiga kawasan yaitu :
1. Kognitif, yang terdiri dari enam tingkatan:
a. Pengetahuan (mengingat, menghapal);
b. Pemahaman (pengenterprestasikan);
c. Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah);
d. Analisis (menjabarkan suatu konsep);
e. Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh);
f. Evaluasi (membandingkan nilai-nilai ide, metode, dan sebagainya).
2. Psikomotor, yang terdiri dari lima tingkatan:
a. Peniruan (menirukan gerak);
b. Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak);
c. Ketepatan (melakukan gerak dengan benar);
d. Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar);
e. Naturlisasi (melakukan gerak secara wajar).
3. Afektif, yang terdiri dari lima tingkatan:
a. Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu);
b. Merespon (aktif berpartisipasi);
c. Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
d. Pengorganisasian (menghubungkan-hubungkan nilai-nilai yang dipercaya);
e. Pengalaman (menjadikan nila-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Taksonomi Bloom ini, seperti yang telah kita ketahui, berhasil memberi inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk memformulasikan tujuan-tujuan belajar dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional serta dapat diukur. Dari beberapa taksonomi belajar, mungkin taksonomi Bloom inilah yang paling populer (setidaknya di Indonesia).
Selain itu, teori Bloom ini juga banyak dijadikan pedoman untuk membuat butir-butir soal ujian, bahkan oleh orang-orang yang sering mengkritik taksonomi tersebut.
Kolberg
Sementara itu, seorang ahli lainnya bernama Kolb membagi tahapan belajar menjadi 4 tahap, yaitu:
1. Pengalaman konkrit
2. Pengamatan aktif dan relfektif
3. Konseptualisasi
4. Eksperimentasi aktif
Pada tahap paling dini dalam proses belajar, seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus seperti itu. Inilah yang terjadi pada tahap pertama proses belajar.
Pada tahap kedua, siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya. Inilah yang kurang lebih terjadi pada tahap pengamatan aktif dan reflektif.
Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi atau ”teori” tentang sesuatu hal yang pernah diamatinys. Pada tahap ini, siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun nampak berbeda-beda tetap mempunyai landasan aturan yang sama.
Pada tahap terakhir (eksperimentasi aktif) siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke siyuasi yang baru. Dalam dunia matematika, misalnya, siswa tidak hanya memahami ”asal-usul” sebuah rumus, tetapi ia juga mamp umemakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Menurut Kolb, siklus belajar semcam ni terjadi secara berkesinambungan, dan berlangsung di luar kesadaran si pelajar. Dengan kata lain, meskipun dalam teorinya kita mampu garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya, namun dalam praktek peralihan dari tahap satu dengan tahap lainnya itu seringkali terjadi begitu saja, sulit kita tentukan kapan beralihnya.
Honey Dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb ini, Honey dan Mumford membuat penggolongan siswa. Menurut mereka, ada empat macam atau siswa, yakni aktivis, reflektor, teoris dan pragmatis.
Siswa tipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru.mereka cendrung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog. Namun siswa semacam ini biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu. Ini kadangkala identik dengan sifat mudah percaya. Dalam proses beljar, mereka menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-ha baru, seperti ”brainstorming”, atau ”problem solving”. Tetapi mereka cepat merasa bosan denggan hal-hal yang memerlukan waktu yang lama dalam implementasi.
Siswa tipe reflektor, sebaliknya, cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah.
Dalam proses pengambilan keputusan, siswa tipe ini cenderung ”konservatif”, dalam arti mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat baik-buruk suatu keputusan. Siswa tipe teoris biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subyektif. Bagi mereka, berpikkir secara rasional adalah sesuatu yang sangat penting.mereka biasanya juga sangat skeptis, dan tidak menyukai hal-hal bersifat spekulatif.
Siswa tipe pragmatis menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Teori memang penting, kata mereka. Namun bila teori ini tidak bisa dipraktekan, untuk apa? Mereka suka bertele-tele membahas aspek teoritis-filosofis dari sesuatu. Bagi mereka, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktekan.
Kritik Terhadap Teori Humanistik
Teori humanistik ini sering dikritik karena sifatnya yang terlalu deskritif (meskipun semua teori belajar sebenarnya bersifat deskritif;lain dengan teori pembelajaran, atau disebut juga teori intruksional,yang lebih bersifat preskriptif). Kelemahan lain adalah sukarnya menerjemahkan teori ini ke langkah-langkah yang lebih praktis konkrit.
Tapi, karena sifatnya yang desriptif itulah maka teori ini seolah memberi arah proses belajar. Semua tujuan pendidikan bersifat ideal, dan teori humanis inilah yang menjelaskan begaimana tujuan ideal itu seharusnya. Seperti teori-teori belajar yang lain, teori humanistik ini pun akan sangat membantu kita memahami proses belajar serta melakukan proses belajar itu dalam dimensi yang lebih luas,jika kita mampu menempatkannya pada konteks yang tepat. Kalau pun teori ini sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah praktis proses belajar, namun ide-ide, konsep-konsep, dan taksonomi-taksonomi yang dibahas dalam teori ini telah membantu membuka mata kita untuk lebih memahami hakikat jiwa manusia.
Dan ini pada gilirannya akan membantu kita menemukan strategi belajar yangg tepat secara lebih sadar dan terarah, dan tidak semata-mata tergantung pada intuisi kita.
Selengkapnya...
Senin, 07 Desember 2009
TEORI HUMANISTIK
TEORI BELAJAR KOGNITIF
TEORI BELAJAR KOGNITIF
Teori kognitif, sebaliknya lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu belajar melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. Teori ini sangat erat hubungan dengan teori sibernetik.
Pada masa-masa awal mulai diperkenalkannya teori ini, para ahli mencoba menjelaskan bagaimana siswa mengolah stimulus dan bagaimana siswa tersebut bisa sampai ke respon tertentu (pengaruh aliran tingkah laku di sini). Namun lambat-laun, perhatian ini mulai bergeser. Saat ini, perhatian mereka terpusat pada proses bagaimana suatu ilmu yang baru berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah dikuasai oleh siswa.
Menurut teori ini,
ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, meyeluruh. Ibarat balok yang terpampang di partitur sebagai informasi yang saling lepas pikiran dan perasaannya. Seperti juga ketika Anda membaca tulisan ini, dalam pikiran, tapi adalah kata, kalimat, paragrap --yang kesemuanya itu seolah menjadi satu, mengalir, menyerbu secara total bersamaan. Dalam praktek, teori ini antara lain terwujud dalam “tahap-tahap perkembangan” yang diusulkan oleh Jean Piaget, “belaja bermakna”-nya Ausubel, dan “belajar penemuan secara bebas” (free discovery learning) oleh Jerome Bruner.
Piaget
Menurut Jean Piaget (salah satu penganut aliran kognitif yang kuat), proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Katakanlah seorang siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan. Jika gurunya memperkenalkan prinsip penjumlahan (yang sudah ada di benak siswa) dengan perinsip perkalian (sebagai informasi baru), inilah yang disebut proses asimilasi.
Jika siswa ini diberi sebuah soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, yang dalam hal ini berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik.
Agar siswa tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, tapi sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya, diperlukan proses penyeimbangan. Proses inilah yang disebut equilibrasi –proses penyeimbangan antara “dunia luar” dan “dunia dalam”. Tanpa proses ini, perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tak teratur (disorganized).
Dalam hal ini, dua orang yang mempunyai jumlah informasi yang sama di otaknya mungkin mempunyai kemampuan equilibrasi yang berbeda. Seseorang dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu ”menata” berbagai informasi ini dalam urutan yang baik,jernih, dan logis. Sedangkan rekannya yang tidak memiliki kemampuan equilibrasi sebaik itu cendrung menyimpan semua informasi yang ada secara kurang teratur, karena itu orang ini juga cendrung mempunyai alur berfikir ruwet, tidak logis, berbelit-belit.
Menurut Piaget, proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa, yang dalam hal ini Piaget membaginya menjadi empat tahap, yaitu tahap Sensorimotor (ketika anak berumur 1,5 sampai 2 tahun), tahap Praoperasional (2/3 sampai 7/8 tahun), tahap Operasional Konkret (7/8 sampai 12/14 tahun), dan tahap Operasional Formal (14 tahun atau lebih).
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensorimotor tentu lain dengan yang dialami seorang anak yang sudah mencapai tahap kedua (praoperasional), dan lain bagi yang dialami siswa lain yang telah sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional konkret dan operasional formal). Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berfikirnya. Maka, guru seyogyanya memahami tahap-tahap perkembangan anak didiknya ini, serta memberikan materi pelajar dalam jumlah dan jenis yang sesuai dengan tahap-tahap tersebut.
Guru yang mengajar tetapi tidak menghiraukan tahapan-tahapan ini akan cendrung menyulitkan para siswanya. Misalnya saja, mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang pancasila kepada sekelompok siswa kelas dua SD, tanpa adanya usaha untuk “mengkonkretkan” konsep-konsep tersebut, tidak hanya akan percuma, tetapi justru akan lebih membingungkan para siswa itu.
Ausubel
Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pengatur kemajuan (belajar)” (Advance Organizers) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.
Ausubel percaya bahwa ”advance organizers” dapat memberikan tiga macam manfaat, yakni :
1. Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa;
2. Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa ”saat ini” dengan apa yang ”akan” dipelajari siswa; sedemikian rupa sehingga
3. Mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.
Untuk itu pengetahuan guru terhadap isi mata pelajaran harus sangat baik. Hanya dengan demikian seorang guru akan mampu menemukan informasi, yang menurut ausubel ”sangat abstrak, umum, dan inklusif”, yang mewadahi apa yang akan diajarkan itu. Selain itu, logika berfikir guru juga dituntut sebaik mungkin. Tanpa memiliki logika berfikir yang baik, maka guru akan kesulitan memilah-milah materi pelajaran,merumuskannya dalam rumusan singkat dan padat, serta mengurutkan materi demi materi itu ke dalam struktur urutan yang logis dan mudah dipahami.
Selengkapnya...
TEORI BELAJAR PERILAKU (BEHAVIORISME)
TEORI BELAJAR PERILAKU (BEHAVIORISME)
Secara umum teori belajar perilaku menyatakan bahwa belajar adalah sebagai bentuk perubahan perilaku yang diperoleh sebagai hasil dari interaksi antara stimulun dan respon. Peristiwa pembelajaran sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan, artinya kejadian-kejadian pada lingkungan itu sendiri yang memberikan pengalaman tertentu terhadap belajar. Secara ringkas dikatakan bahwa peristiwa belajar yang terjadi berdasarkan paradigma “hubungan antara sitmulus dan respon (S-R). Perilaku itu dapat diamati sesuai dengan keterkaitan antara stimulus dan respon, lebih bersifat atau mengikuti prinsip-prinsip mekanistik. Agen-agen lingkungan yang menyebabkan minimal mendorong organisma untuk melakukan respon. Bila diamati proses S-R tersebut, maka ada unsur dorongan atau drive di dalam diri individu.
Mahasiswa mengalami dan merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan. Unsur kedua yaitu stimulus, kepada mahasiswa diberikan rangsangan (bisa jadi datangnya dari eksternal atau bisa berupa faktor internal) yang menyebabkan mereka memberikan respon. Unsur ketiga dalah respon, mahasiswa memberikan reaksi terhadap setiap stimulus yang diterimanya dengan cara melakukan sesuatu )berupa kegiatan atau tindakan). Keempat adanya unsur penguatan atau reinforcement (berupa hadiah), yang perlu diberikan kepada mahasiswa agar merasakan bahwa memberikan respon terhadap sesuatu memperoleh suatu minimal “kepuasan” secara batiniah, dan masa yang akan datang mahasiswa akan terbiasa melakukan kegiatan tersebut. Para penganut teori belajar perilaku menyatalkan bahwan sudah cukup bagi mahasiswa untuk mempertautkan berbagai stimulus dan respon, penganut teori ini tidak mempersoalkan apakah yang terjadi dalam fikiran mahasiswa sebelum atau sesudah memberikan respon.
1. Teori Belajar Classical Conditioning (Ivan . P. Pavlov)
Kondisioning yang dikemukakan oleh Pavlov merupakan suatu jenis bentuk belajar bahwa kesanggupan individu untuk merespon terhadap rangsangan tertentu dapat dipindahkan pada rangsang yang lain.
Dalam diri setiap individu terdapat atau ada sistem reaksi (respon) yang tidak dapat dilakukan manipulasi oleh sistem urat syaraf untuk menerima suatu rangsangan (stimulus) sekaligus juga rekasi emosional yang dapat dikontrol (respon), seperti terjadinya sekresi (pembanjiran air liur ketika kita melihat orang lain makan makanan berupa asam-asam “melihat orang rujak misalnya”, sekaligus ada juga orang yang dapat mengontrolnya, sehingga tidak terlihat reaksi apapun). Suatu percobaan klasik dilakukan oleh Pavlov terhadap seeekor anjing. Pavlov mengajarkan kepada anjingnya tersebut untuk mengeluarkan air liur ketika mendengarkan bunyi bel. Pavlov menguraikan percobaannya tersebut sebagai berikut: ketika anjing melihat makanan “tepung daging” (suatu stimulus atau rangsangan) disebut dengan unconditioning stimulus (US). Hal yang terjadi pada anjing adalah keluarnya air liur anjing tersebut, peristiwa ini oleh Pavlov disebut dengan conditioning respons (UR). Setelah dilakukan kondisioning (membuat suatu kondisi lain yang berbeda dari rangsangan tersebut), Pavlov membunyikan bel (metronom) yang menyebabkan keluarnya air liur disebut dengan conditioning stimulus (CS) yang menimbulkan conditioning respons (CR). Sebenarnya sebelum membunyikan metronom tidak menimbulkan respon yang dikehendaki (disebut stimulus netral). Untuk jels dapat dilaht pada gambar berikut :
US UR
CS
US UR
CS
CR
Gambar 1. Kondisioning klasik
Gambaran secara umum dapat dijelaskan bahwa bila mahasiswa memperoleh stimulus yang tidak dikondisikan (US) akan menimbulkan juga respon yang tidak terkondisi (UR), ini yang sehari-hari kita kenal dengan gerakan refleks (reaksi yang terjadi tanpa melalui proses belajar). Adakalanya stimulus yang tidak dikondisikan (US) dan kemudian diberikan bersamaan dengan stimulus yang dikondisikan (CS) dapat menimbulkan reaksi yang tidak dikondisikan (UR), tetapi keadaan seperti itu sering kita ulangi bisa jadi akan menimbulkan reaksi yang dikondisikan (CR) dan ini yang diharapkan, sehingga dapat dikatakan mahasiswa sudah belajar.
Bila kita amati lebih mendalam lagi, maka gambar 1 tersebut dapat dilukiskan secara mendetail seperti berikut ini:
US UR
CS + US UR + CR
CS + US CR
CS CR
Ada beberapa peristiwa yang timbul dari gambar tersebut di atas, yaitu makin sering mahasiswa memperoleh stimulus yang dikondisikan (CS) makin mantaplah terjadinya reaksi yang dikondisikan (CR) dan ini yang diharapkan. Tetapi lama kelamaan CS yang sering diberikan itu dapat pula mengurangi kadar CR yang diharapkan dan pada akhirnya hilang sama sekali (peristiwa ini disebut extinction), bila ini terjadi dan kemudian diberikan lagi US maka reaksi CR yang hilang tadi akan dengan cepat dapat muncul kembali (dikenal dengan spontaneus recovery). Peristiwa lain yang terjadi dikenal dengan generalisasi yaitu pemberian reaksi terkondisi (CR) terhadap CS yang serupa atau memiliki kemiripan, walaupun CS itu belum pernah diberikan. Semakin banyak kesamaannya dengan CS semakin besar pula terjadinya generalisasi. Terjadi juga sebaliknya, yaitu proses belajar untuk memberikan reaksi (CR) atau tidak memberikan rekasi (UR) terhadap CS yang lain, peristiwanya disebut dengan diskriminasi stimulus. Peristiwa lain yang dikenal dengan aviodance conditioning, yaitu kondisi penghindaran untuk timbulnya reaksi yang tidak terkondisi (UR), contohnya bila bunyi bel (CS) diikuti dengan pemberian kejutan listrik pada kaki anjing, tetapi bila kakinya diangkat kejutan listrik akan menghilang. Escape learnig yaitu suatu reaksi yang merupakan pelarian dari bahaya (biasanya US nya bersifat “bahaya”).
2. Teori Belajar Operant Conditioning (B. F. Skinner)
Hubungan antara stimulus dan respon menurut Skinner bukan terjadi begitu saja, tetapi memiliki hubungan antara satu dengan lainnya, kesaling hubungan tersebut akan mempengaruhi respon yang diberikan. Sehubungan dengan respon, Skinner menjelaskan bahwa respon yang diberikan bisa benar artinya sesuai dengan stimulus yang dimunculkan, adakalanya tidak benar artinya tidak sesuai dengan stimulus yang ditimbulkan, seperti : dalam kehidupan sehari-hari sering kita tanyakan kepada orang lain “Anda hendak kemana?” berupa stimulus pertanyaan, tetapi muncul jawaban “saya mau ke kampus” sebagai respon. Terlihat ketidak adaan hubungan antara stimulus dan respon. Tentu saja jawaban yang benar adalah “Saya dari tempat kos (Kampung Baru)” misalnya. Yang menjadi fokus dari teori Skinner adalah respon yang benar harus diberikan penguatan (reinforcement), dengan tujuan agar orang melakukan kegiatan (respon) itu kembali. jadi respon yang diberikan menghasilkan berbagai konsekwensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku mahasiswa. Akibatnya, adalah untuk memahami tingkah laku mahasiswa secara tuntas, kita harus memahami hubungan antara satu stimulus dengan stimulus lainnya, memahami respon itu sendiri, dan berbagai konsekwensi yang diakibatkan oleh respon tersebut. Menurut Skinner menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku yang ditimbulkan mahasiswa hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi rumit, sebab “alat” itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi. Misalnya, bila kita mengatakan bahwa “seorang mahasiswa berpretasi buruk sebab mahasiswa ini memiliki motivasi yang rendah”. Jelas ini menurut Skinner untuk menuntut kita menjelaskan “apa itu motivasi”, bagaimana terjadinya?, faktor apa yang mempengaruhinya, dan pertanyaan atau penjelasan-penjelasan lain yang berkaitan dengan motivasi tersebut harus kita uraikan, begitulah seterusnya.
Penjelasan Hill (Toeti Sukamto dan Udin S, 1997) berkenaan dengan teori Skinner khususnya tentang penguatan dapat diberikan dalam bentuk (1) kontinu, yaitu terus menerus memberikan penguatan terutama pada saat permulaan proses pembelajaran berlangsung. Jadi setiap kali mahaiswa menjawab soal dengan benar langsung diberikan penguatan (verbal atau nonverbal), sedangkan (2) selang-seling, artinya beberapa saat perlu dikurangi pemberian penguatan, dengan tujuan agar mahasiswa tetap tekun dalam belajar.
Ada beberapa hal yang menarik untuk dijadikan sebagai resume (setelah dilakukan berbagai percobaan) dengan pemberian penguatan, yaitu : 1) kita perlu membuat pengalan-penggalan materi pada setaip proses pembelajaran (dapat berupa modul), 2) penguatan harus diberikan sesegera mungkin dan kalau perlu sesaat respon itu muncul, 3) pemberian penguatan harus dipertimbangkan dan pengontrolan secara hati-hati, dan 4) perlu bagi mahasiswa untuk melakukan diskriminasi dan generalisasi, karena akan mempengaruhi keberhasilan mereka. Dituntut sekali keaktifan dan partisipasi mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Dari semua pendukung teori tingkah laku, mungkin teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar. Beberapa program pembelajaran seperti pengajaran terprogram, paket-paket belajar mandiri (modul-modul), “Teaching Machine”, “Mathematics”, prinsip belajar tuntas (mastery learning) atau program-program lain memakai konsep stimulus program yang memanfaatkan teori Skinner ini.
Hanya saja pertanyaan-pertanyaan seperti : binatang sebagai subyek penelitian apakah dapat juga berlaku untuk manusia?, penelitian laboratorium akan memberikan hasil yang sama dengan penelitian di kelas (realitas)?, bagaimana hubungannya dengan faktor sosial? Manusia adalah makhluk sosial. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sekaligus juga merupakan kritikan terhadap teori perilaku pada umumnya yang sampai saat sekarang menjadi bahan perdebatan.
Selengkapnya...
Prinsip – Prinsip Belajar
Prinsip – Prinsip Belajar
Salah satu tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu saja tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak secara tepat. Oleh karenanya Anda sebagai calon guru perlu mempelajari teori dan prinsip-prinsip belajar yang dapat membimbing aktivitas Anda dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Walaupun teori belajar tidak dapat diharapkan menentukan langkah demi langkah prosedur pembelajaran, namun ia bisa memberi arah, prioritas-prioritas dalam tindakan guru.
Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran.
Dalam melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Guru dapat terhindar dari tindakan-tindakan yang kelihatannya baik tetapi nyatanya tidak berhasil meningkatkan proses belajar siswa. Selain itu dengan teori dan prinsip-prinsip belajar ia memiliki dan mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa.
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan,keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan dan perbedaan individual.
1. Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar (Gagne and Berliner, 1984: 335). Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan meningkatkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
Di samping perhatian motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan mesin dan kemudi pada mobil. (Gagne and Berliner, 1984: 372)/
“Motivation is the concept we use when we describe the forces acting on or within an organism to initiate and direct behavior”, demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbert L, 1986: 3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik setelah kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap penting dalam kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Sikap siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya. Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang belajar matematika dan terdorong untuk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa terhadap mata-mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Intensif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sesudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F. Skinner dengan operant conditioning-nya. (Hal ini dibicarakan lebih lanjut dalam prinsip balikan dan pengautan).
Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal, datang dari orang lain: dari guru, orang tua, teman dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif instrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. Sedangkan motif ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas dan mendapatkan ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
Motif intrinsik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga bersifat eksternal, datang dari luar. Motif intrinsik bisa bersifat internal maupun eksternal, walaupun lebih banyak bersifat eksternal. Motif ekstrinsik dapat juga berubah menjadi motif intrinsik, yang disebut transformasi motif. Sebagai contoh, seorang siswa belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang tuanya, tetapi setelah belajar beberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu yang semula ekstrinsik menjadi intrinsik.
2. Keaktifan
Kecenderungan psikolog dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah. (John Dewey, 1916, dalam Davies, 1987: 31).
Menurut teori Kognitif belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, 1984: 267), menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam proses belajar-mengajar anak mampun mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan.
Thorndike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “law of exercise”-nya yang menyatukan bahwa belajar perlu adanya latihan-latihan. Mc. Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan “manusia belajar yang aktif, selalu ingin tahu, sosial” (Mc Keachie, 1976: 230 dari Gredler MEB, terjemaham Munandir, 1991: 105).
Dalam setiap proses belajar selalu menempatkan keaktifan siswa. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang sudah diamati. Kegiatan fisik berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan kasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis yang lain.
3. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Di muka telah dibicarakan bahwa belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajarnya yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe yang paling baik apabila ia terlibat secara langsung dalam pembuatan (direct performance), bukan sekedar melihat bagaimana orang membuat tempe (demonstrating), apalagi sekedar mendengan orang bercerita bagaimana cara pembuatan tempe (telling).
Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan “learning by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui pembuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dalam kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam pengahayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
4. Pengulangan
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya: mengamat, menganggap, mengingat. Mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.
Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thorndike. Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise” ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, dan dengan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar. Seperti kata pepatah “latihan menjadikan sempurna” (Thorndike, 1913b: 20, dari Gredler, Margaret E Bell, terjemahan Munandir 1991: 51). Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Konseksionisme juga menekankan pentingnya pengulangan dalam belajar. Kalau pada Koneksionisme belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons, maka pada psikologi conditioning respons akan timbul bukan saja oleh stimulus, tetapi juga oleh stimulus yang dikondisikan. Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas karena mendengar bunyi lonceng, kendaraan berhenti ketika stonpan berwarna merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dan belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ngulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembinasaan tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi dapat juga oleh stimulus penyerta.
Ketika teori di atas menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk membentuk respons yang benar dan membentuk kebiasaan-kebiasaan. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori di atas, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar masih tetap diperlukan latihan/pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan. (Gage and Berliner, 1984: 259).
5. Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk turut menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah diolah secara tuntas oleh guru sehingga siswa tinggal menelan saja kurang menarik bagi siswa.
Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memeproleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.
6. Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar ini adalah “law of effect”-nya Thorndike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namun dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh pungutan yang menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar. (Gage and Berliner, 1984: 272).
Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar lebih giat. Di sini nilai buruk dan rasa takut tidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif. Di sini siswa mencoba menghindar dari peristiwa yang tidak menyenangkan, maka penguatan negatif juga disebut escape conditioning. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui penggunaan metode-metode di atas akan membuat siswa terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat.
7. Perbedaan Individual
Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persisi, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. perbedaan itu terdapat pada: karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya.
Perbedaan individual ini berpengaruh pada acara dan hasil belajar siswa. Karenanya perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual kita melaksanakan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memeperbaiki pembelajaran klasikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang. Di samping itu dalam memberikan tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang akan merasakan berhasil di dalam belajar. Sebagai unsur primer dan sekunder dalam pembelajaran, maka dengan sendirinya siswa dan guru terimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar.
Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Namun demikian perlu Anda sadari bahwa implementasi prinsip-prinsip belajar sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tidak semuanya terwujud dalam setiap proses pembelajaran. Agar Anda mendapat kejelasan tentang implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, uraian berikut ini dapat membantu Anda memperolehnya.
Selengkapnya...
HAKEKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
HAKEKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Sebelum membahas tentang berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip yang perlu diterapkan di dalam proses belajar mengajar, perlu terlebih dahulu mengetahui apa sebenarnya disebut “belajar” itu. Menurut Morgan dan kawan-kawan (1986) belajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Definisi ini mencakup tiga unsur, yaitu (1) belajar adalah perubahan tingkah laku, (2) perubahan tersebut terjadi karena latihan atau pengalaman. Perubahan yang terjadi pada tingkah laku karena unsur kedewasaan bukan belajar, dan (3) sebelum dikatakan belajar, perubahan tersebut harus relatif permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.
Apa yang dikatakan oleh Morgan dan kawan-kawan ini senada dengan pendapat para ahli sebelumnya yang semuanya menyatakan bahwa
belajar merupakan suatu proses yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku karena adanya reaksi terhadap sesuatu situasi tertentu atau karena proses yang terjadi secara internal di dalam diri seseorang. Perubahan tersebut tidak terjadi karena adanya warisan genetik, atau respons secara alamiah, kedewasaan, atau keadaan organisma yang bersifat temporer seperti misalnya kelelahan, pengaruh obat-obatan, rasa takut, dan sebagainya, serta dapat merupakan perubahan dalam pemahaman, tingkah laku, persepsi, motivasi, dan seterusnya, atau gabungan dari kesemuanya (Snelbecker, 1974; Bower & Hilgard, 1981; Gagne;1985).
Dipandang dari segi kependidikan, apabila seseorang telah belajar sesuatu maka ia akan berubah kesiapannya dalam hal menghadapi lingkungannya. Belajar adalah aktif dan merupakan fungsi dari situasi di sekitar individu yang belajar serta diarahkan oleh tujuan dan terdiri dari bertingkahlaku, yang menimbulkan adanya pengalaman-pengalaman dan keinginan untuk memahami sesuatu. Apabila kita bicara tentang belajar maka sebenarnya kita bicarakan tentang bagaimana tingkahlaku seseorang berubah sebagai akibat dari pengalaman (Snelbecker, 1974). Snelbecker selanjutnya menyimpulkan definisi belajar, sebagai berikut (1) belajar harus mencakup tingkahlaku, (2) tingkahlaku tersebut harus berubah dari tingkat yang paling sederhana sampai yang kompleks, (3) proses perubahan tingkahlaku tersebut harus dapat dikontrol sendiri atau dikontrol oleh faktor-faktor eksternal.
Kalau ditelaah dan dipelajari lebih lanjut maka terlihat adanya kesamaan-kesamaan mengenai pengertian-pengertian tentang apa belajar itu, baik dipandang dari segi psikologi maupun pendidikan. Bedanya ialah bahwa para ahli psikologi memandang belajar sebagai perubahan yang terlihat, tidak perduli apakah perubahan-perubahan tersebut akan membuat atau justru menghambat adaptasi seseorang terhadap kebutuhan-kebutuhan di dalam masyarakat dan lingkungannya. Di lain pihak para pendidik menganggap proses belajar terjadi hanya apabila hal tersebut sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sekolah dan masyarakat. Jadi para psikolog lebih bersifat netral, sedang para pendidik belum menganggap seseorang telah belajar meskipun tingkah lakunya berubah, selama tingkahlakunya tersebut tidak mengarah tercapainya tujuan-tujuan yang telah ditetapkan di sekolah.
Proses belajar terdiri dari beberapa tahap yang kesemuanya harus dilalui bila seseorang ingin belajar dalam arti yang sesungguhnya. Dengan kata lain, agar dapat terjadi suatu pengertian seluruh proses belajar harus terjadi dalam semua tahap yang ada. Tahap-tahap tersebut kita namakan sebagai tahap terjadinya proses belajar. Seseorang belajar dari tidak tahu/tidak mengerti, kemudian melalui proses tahap pembelajaran motivasi, perhatian pada pelajaran atau belajar, menerima dan mengingat, reproduksi, generalisasi, melaksanakan latihan dan umpan baliknya
Proses belajar merupakan jalan yang harus ditempuh oleh seorang pelajar atau mahasiswa untuk mengerti suatu hal yang sebelumnya tidak diketahui. Seseorang yang melakukan suatu kegiatan belajar dapat disebut telah mengerti suatu hal, bila ia juga dapat menerapkan apa yang telah ia pelajari. Seperti seoarng pelajar atau mahasiswa dapat dikatakan tahu suatu rumus aljabar¬–(a+b)2 = a2+2 ab+b2– bila dia telah memahaminya dan mampu tanpa salah mengerjakan hitungan-hitungan yang berkaitan dengan rumus diatas. Jika demikian halnya dia telah memahami proses belajar secara berhasil. Keberhasilan seorang pengajar akan terjamin, bila dia dapat mengajak para muridnya mengerti suatu masalah melalui semua tahap proses belajar, karena dengan cara begitu murid akan memahami hal yang diajarkan. Dengan begitu berarti pengajar tersebut melakukan tugasnya dengan berhasil.
Masalah proses belajar merupakan masalah yang kompleks sifatnya. Disebut demikian karena proses belajar terjadi dalam diri seseorang yang melakukan kegiatan belajar tanpa bisa terlihat secara lahiriah. Maka hal tersebut dinamakan proses intern. Karena tidak terlihat pengajar harus memperhatikan petunjuk-petunjuk (indikator-indikator) tertentu, untuk menentukan apakah dalam diri seseorang yang belajar terjadi suatu proses belajar. Petunjuk-petunjuk itu adalah kejadian-kejadian yang nampak pada diri seseorang yang belajar sebagai cerminan terjadinya proses intern. Kita namakan hal itu sebagai proses ekstern, terjadi di sekeliling seorang murid. Proses tersebut memberi pengaruh pada proses intern. Maka apa yang harus dilakukan oleh seorang pengajar? Pengajar harus mengarahkan proses ekstern sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi proses intern. Tanpa terjadinya proses intern seorang murid tidak akan dapat mengerti suatu hal yang diajarkan. Karena proses intern tidak dapat diamati secara langsung, pengajar dapat melakukan hal itu lewat proses ekstern. Ia perlu tahu faktor-faktor apa yang bisa mempengaruhi proses intern.
Proses Intern
Untuk dapat mengerti bahan yang diajarkan, seorang murid harus mengalami tahap-tahap berikut:
Tahap pertama: Motivasi
Keinginan untuk mencapai suatu hal tentu berdasarkan pada motivasi tertentu. Begitu pula halnya dengan seseorang yang melakukan kegiatan belajar. Kalau murid tidak mau belajar, pasti ada sebab-sebabnya. Dalam hal mengajar memang dibutuhkan motivasi tertentu. Untuk itu ada berbagai macam motivasi. Tetapi motivasi ingin berprestasi merupakan motivasi yang terpenting. Kalau seorang murid ingin lulus dalam ulangan atau tentamen, entah dengan alasan apapun, ia akan berusaha dapat mengerti apa yang diajarkan seorang pengajar. Bila murid tidak mempunyai motivasi untuk belajar, pengajar hendaknya memberi penjelasan sedemikian rupa sehingga dapat timbul motivasi yang dibutuhkan.
Sehubungan dengan motivasi, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan proses belajar:
a. Motivasi jangka panjang
Seorang murid yang belajar secara tekun guna menghadapi ulangan umum atau ujian akhir, mempunyai motivasi jangka panjang. Setiap kali ia selalu memaksa diri untuk dapat mengerti hal yang dijelaskan oleh pengajarnya. Motivasi seperti ini mempunyai arti sama pentingnya dengan inteligensi yang baik.
b. Motivasi jangka pendek
Motivasi jenis ini merupakan minat pada saat itu, yang dibutuhkan agar para pendengar mengerti penjelasan pengajar. Motivasi ini sangat dipengaruhi oleh motivasi jangka panjang. Dan sebaliknya motivasi jangka panjang memperoleh isi dari motivasi jangka pendek. Contoh motivasi jangka pendek: Seorang pengajar memberi penjelasan tentang proses kelapukan kepada para calon insinyur sipil. Selama pelajaran itu terlihat para pendengar kurang mempunyai motivasi untuk mendengarkan. Hal ini mungkin karena pendengar belum tahu, bahwa masalah tersebut penting bagi mereka. Seandainya pengajar itu menerangkan bahwa memperhitungkan faktor kelapukan dalam perencanaan adalah penting bagi pembuat jembatan, boleh jadi para pendengar akan segera melihat perlunya mengerti masalah proses kelapukan itu. Dengan cara begitu pengajar merangsang timbulnya motivasi dan membuka jalan bagi pendengar untuk mengerti bahan yang diajarkan. Apabila kedua motivasi tersebut tidak ada maka proses belajar pun jelas tidak akan terjadi.
c. Kadar surut ingatan (regresi)
Yang dimaksud dengan kadar surut ingatan atau regresi adalah proses melemahnya ingatan seseorang akan sesuatu hal. Murid dengan kadar surut ingatan-ingatan yang tinggi mudah lupa akan masalah yang dijelaskan oleh pengajar. Tetapi murid dengan kadar surut ingatan yang rendah akan dapat mengingat lebih lama mengenai hal yang diajarkan. Seorang pengajar dapat memperkecil regresi murid-muridnya atau mahasiswanya dengan jalan menanamkan motivasi kepada mereka, baik motivasi jangka panjang maupun motivasi jangka pendek. Tetapi regresi juga dapat berkurang apabila seorang mahasiswa mempunyai banyak kepentingan dengan hal yang diajarkan karena kepentingan dapat memperkuat motivasi seseorang.
Tahap kedua: Perhatian pada pelajaran atau belajar
Murid harus diikutsertakan dalam bahan yang diajarkan. Mereka harus memusatkan perhatiannya pada bahan tersebut. Kalau ada salah satu macam motivasi saja (tahap pertama), maka perhatian pada pelajaran atau belajar akan timbul. Timbulnya perhatian murid tersebut sangat tergantung pada pengajar.bila pengajar dapat menarik perhatian murid, dengan sendirinya tingkat perhatian mereka pun akan tinggi. Hal tersebut dapat diusahakan dengan membuat variasi penggunaan tempo dalam mengajar, nada suara, serta variasi penggunaan teknik mengajar. Seorang pengajar yang selalu bersikap berdiri (atau duduk) di satu tempat, yang berbicara dengan nada suara yang selalu sama, tanpa pernah memandang kearah muridnya, tidak pernah menulis sesuatu di papan tulis, tidak pernah mengajukan pertanyaan dan lain sebagainya, akan sedikit sekali memperoleh perhatian dari pihak muridnya.
Pelajaran atau belajar yang ia berikan menjadi tidak menarik dan membosankan. Agar jam pelajaran atau belajar memperoleh perhatian secukupnya, pengajar perlu memperhatikan perbandingan antara waktu kerja dengan waktu istirahat sejenak dalam jam pelajaran tersebut, mengingat bahwa kenyataannya perhatian murid makin lama makin menurun sepanjang jam pelajaran itu. Gambar 2 menunjukkan jalan garis perhatian murid dalam suatu jam pelajaran. Gambar 2A menunjukkan perhatian murid meningkat pada lima menit pertama. Kemudian akan menurun secara perlahan-lahan. Tetapi tingkat perhatian murid dapat dinaikkan kembali umpamanya dengan istirahat singkat, yang disisipkan pada saat tertentu. Hal tersebut dilukiskan pada gambar 2B. Tentu saja menyisipkan istirahat pendek itu bukan satu-satunya cara untuk menghidupkan lagi perhatian murid.
Pengajar juga dapat mempengaruhi proses belajar secara positif dengan variasi dalam mengajar. Sebagai contoh, setelah dua puluh lima menit pelajaran berjalan pengajar mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan pendengar. Bisa juga dengan cara lain, yaitu menunjuk salah seorang pendengar untuk menjelaskan sesuatu.
Pendeknya ada banyak macam cara dapat digunakan untuk menghidupkan kembali perhatian pihak pendengar. Perlu diketahui bahwa perhatian untuk mengerti sesuatu merupakan tahap yang tak dapat dielakkan dalam proses belajar.
Selengkapnya...
Kalimat Efektif
Kalimat Efektif
Kalimat efektif ialah kalimat yang disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang didinginkan oleh penulis terhadap pembacanya (Akhadiah MK, 1984/1985:1). Secara agak terurai dapat dikemukakan bahwa suatu kalimat disebut efektif apabila kalimat tersebut mempersoalkan bagaimana ia (kalimat yang tertulis itu) dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan penulis, bagaimana ia dapat mewakilinya secara segar, da sanggup menarik perhatian pembaca terhadap apa yang dibicarakan.
Secara teoritis, dapat dikatakan bahwa suatu kalimat dikatakan efektif apabila
tersusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku pada bahasa tersebut. Apabila disarikan dari beberapa konsep kalimat efektif yang dikemukakan oleh beberapa ahli, ciri-ciri kalimat efektif dapat dikemukakan sebagai berikut;
1. Memiliki unsure-unsur penting atau pokok dalam setiap kalimatnya
2. taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku
3. menggunakan diksi secara tepat
4. menggunakan kesepadanan antarstruktur bahasa dan jalan pikiran
yang logis dan sistematis
5. menggunakankesejajaran bentuk bahsa yang dipakai
6. melakukan penekanan ide pokok
7. hemat dalam penggunaan kata
8. menggunakan variasi struktur kalimat (Keraf, 1984: 34-48)
Kalimat efektif digunakan pada karangan-karangan yang menyangkut masalah keilmuan seperti makalah, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, laporan kerja suatu lembaga pemerintahan atau organisasi, dan sebagainya.
Selengkapnya...
Pentingnya Ejaan
Pentingnya Ejaan
Dalam menjalankan kegiatan akademik, setiap mahasiswa pasti pernah atau bahkan sering dituntut agar dapat mengungkapkan gagasan, ide, dan pikiran secara logis dan sistematis secara tertulis. Misalnya ketika tugas melaksanakan praktik lapangan, survey, dan eksperimen. Pada umumnya gagasan, ide, dan pikiran sehubungan dengan tugas tersebut pada ahirnya harus disampaikan dengan bahasa tulis. Dengan demikian, menulis merupakan suatu kegiatan akademik yang pasti dilaksanakan oleh mahasiswa.
Menuangkan gagasan atau ide dalam tulisan tidak sekedar memindahkan apa yang ada dibenak, tetapi pemindahan tersebut melalui berbagai pertimbangan seperti format, sistematika, dan bahasa. Laporan, tugas akhir, dan skripsi, misalnya merupakan karya tulis ilmiah yang bobot ilmiahnya bias ditentukan dari segi isi dan bahasanya. Yang pasti setiap karya tulis ilmiah harus ditulis dengan bahasa yang benar baik darisegi kata, kalimat, paragraph maupun ejaan.
Mahasiswa harus menguasai salah satu bidang bahasa yang sudah dibakukan, yaitu ejaan adalah harga mati atau tidak bias ditawar-tawar. Ejaan bahasa Indonesia yang berllaku sejak 1972 sampai saat ini adalah Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan atau disingkat dengan EYD. EYD itu pemakaiannya diresmikan sejak Agustus tahun 1972 berdasarkan Kepres RI no. 57 tahun 1972. Dilihat dari usianya, implementasi EYD dalam penulisan sudah cukup lama karena lebih dari tiga dasawarsa. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa sampai saat ini sering dijumpai tulisan yang tidak taat asas atau menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan.
Selengkapnya...
.jpg)